Aku adalah seorang guru Pendidikan Agama Islam. Tugas sebagai guru sudah
aku jalani sejak tahun 1989, jauh sebelum aku lulus sebagai sarjana di bidang
ilmu pendidikan. Bagiku menjadi guru merupakan panggilan jiwa yang jauh dari
keingingan untuk menjadi sosok yang di masa sekarang justru sangat didamba,
karena ada sebuah penghargaan yang namanya sertifikasi guru.
Pada tanggal 01 Desember 1994 aku diangkat menjadi PNS di SMK Negeri 10
Semarang. Tugas menjadi guru benar-benar
dilandasi pengabdian ingin mencerdaskan generasi bangsa, sehingga disaat bulan
pertama bekerja aku memperoleh bayaran (gaji bahasa trend nya) sebesar Rp. 66.000,-
itu sebuah penghargaan yang teramat besar meski dalam perjalanannya uang
sebanyak itu habis aku belanjakan sebelum bulan yang kujalani berakhir. Maka
hari-hari sisanya aku sering hanya makan papaya mentah yang aku masak sebagai
sayur oseng itupun tanpa nasi. Maka suatu waktu aku berdoa di pagi hari ; “Ya Allaah, berilah
aku rizki pada hari ini”, ternyata Allah mengabulkan doaku dengan Dia
memerintahkan seekor kelelawar untuk makan buah mangga di samping rumahku yang cabang
dan rantingnya menjulur menyeberangi tempat aku tinggal dengan seorang teman
kuliahku yang kebetulan sudah lulus namun juga belum mendapat pekerjaan. Maka
hari itu aku makan buah mangga hadiah dari kelelawar yang ceroboh tidak mampu
mempertahankan mangga ranum yang digigitnya.
Aku mengajar di SMK Negeri 10
Semarang sesuai dengan disiplin ilmu yang pernah aku peroleh di perguruan
tinggi Islam tepatnya IAIN Walisongo Semarang. Mengajar Pendidikan Agama Islam
menjadi pekerjaan yang menyenangkan, memberi kepuasaan tersendiri karena setiap
yang aku ajarkan berarti aku membentuk generasi bangsa yang berakhlak mulia
sekaligus menabung kebaikan (pahala) yang akan saya petik di hari pengadilan
Allah SWT. Memang mengajar Pendidikan Agama Islam bagi guru lain dirasa berat,
karena harus mengedepankan contoh yang baik dari diri sendiri apabila
mengharapkan imbas yang lebih baik atau minimal sama bagi anak didiknya.
Bukankah hakekat mengajar itu membentuk dan merubah diri serta orang lain
menjadi baik (dewasa) dalam berfikir, bersikap serta bertindak ? Ketika mengajarkan
shalat, maka saya harus menjadi pribadi yang rajin dalam beribadah shalat, ketika
mengharapkan anak berakhlak baik, maka saya harus menjadi pribadi yang
berakhlak baik pula. Hal ini tentu berbeda secara persepsi dengan saat menjadi
guru yang lain karena seolah tidak ada tuntutan secara moral, meski
sesungguhnya secara normatif semua guru harus berakhlak mulia.
Dalam perjalanan selanjutnya mungkin
karena ketekunan, dedikasi, disiplin serta tanggung jawab itulah, aku diberi
tanggung jawab tambahan untuk mengendalikan keamanan dan ketertiban siswa di
sekolahku. Tugas aku jalani dengan gembira karena aku niatkan sebagai ladang
menambah “reward” (pahala) bukan tambahan penghasilan sebagai tujuan utamanya.
Aku bertugas melakukan bimbingan, pembinaan, memberi reward and punishment (penghargaan dan
hukuman) bagi siswa yang disiplin maupun indisipliner (melanggar).
Sejak aku bekerja, sekolahku di
kenal sebagai lembaga pendidikan yang selalu menimbulkan disharmoni antar sekolah, biang kerok, tawuran antar pelajar dan
sebutan lain yang kurang sedap. Sejak itu pulalah aku bertekad akan mengubah
“image” (kesan) yang kurang baik di sekolahku agar menjadi baik. Tugas tersebut
menjadi tantangan sekaligus pemacu semangat. Sejak saat itu saya berfikir keras
mencari cara dan strategi mengendalikan siswa, menciptakan rasa bangga kepada
almamater, disiplin belajar, berpakaian sesuai aturan dan menjaga tata
pergaulan antar teman, guru dan karyawan. Akhirnya pada tahun 1998 lahir sebuah
aturan Tata Tertib Sekolah yang bukan saja mengatur bagaimana siswa SMK Negeri
10 Semarang dalam bersikap sebagai pelajar, tentang hak dan kewajibannya,
tetapi di dalamnya memuat aturan-aturan yang berisi perintah dan larangan dengan jumlah poin
pelanggaran bagi siswa yang mengabaikannya.
Saya selaku ketua Tim yang
ditugasi amanat tersebut, dengan semangat tidak mengenal lelah selama 6 hari
kerja Senin sampai Sabtu, dimulai dari jam 06.00 sampai 16.00 bekerja
menegakkan disiplin aturan tersebut, memberi sanksi bagi siswa yang melanggar
sekaligus melakukan pembinaan, bahkan secara insidental saya harus kordinasi
dengan POLWILTABES Semarang di malam hari bila ada kasus-kasus yang harus
segera ditangani.
Setelah
Tata Tertib diberlakukan selama 5 tahun barulah sangat dirasakan dampaknya,
dimana tingkat perkelaihan siswa, kehadiran di sekolah, kerajinan belajar di
kelas, tindakan asusila dan yang lebih menggembirakan penggunaan dan peredaran
narkoba di lingkungan sekolah bisa dikatakan aman. Tugas saya selanjutnya hanya
tinggal melakukan pembinaan, pencegahan terhadap siswa yang punya
ketergantungan terhadap rokok. Tingkat perkelahian menjadi nihil, kalau masih
ada sesungguhnya hanya dilakukan oleh oknum mantan siswa ( di keluarkan oleh
sekolah) yang ketika melakukan pelanggaran masih menggunakan atribut SMK Negeri
10 Semarang.
Kepada para pembaca budiman yang
ingin melakukan sharing/berbagi informasi tentang hal-hal yang saya lakukan
atau ingin belajar bersama tentang pembinaan pelajar secara berkelanjutan
dipersilakan kontak saya ke nomor hand phone 081 2256 8854, kirim saran ke
alamat email ibnumusa_1407@yahoo.com
atau ibnumusa.1407@gmail.com.
Selamat menjalankan tugas,
semoga menjadi pribadi yang mulia.