Kamis, 07 Mei 2015

AKTIFITASKU SEHARI-HARI DI SEKOLAH



Aku adalah seorang guru Pendidikan Agama Islam. Tugas sebagai guru sudah aku jalani sejak tahun 1989, jauh sebelum aku lulus sebagai sarjana di bidang ilmu pendidikan. Bagiku menjadi guru merupakan panggilan jiwa yang jauh dari keingingan untuk menjadi sosok yang di masa sekarang justru sangat didamba, karena ada sebuah penghargaan yang namanya sertifikasi guru.
                Pada tanggal 01 Desember  1994 aku diangkat menjadi PNS di SMK Negeri 10 Semarang. Tugas  menjadi guru benar-benar dilandasi pengabdian ingin mencerdaskan generasi bangsa, sehingga disaat bulan pertama bekerja aku memperoleh bayaran (gaji bahasa trend nya) sebesar Rp. 66.000,- itu sebuah penghargaan yang teramat besar meski dalam perjalanannya uang sebanyak itu habis aku belanjakan sebelum bulan yang kujalani berakhir. Maka hari-hari sisanya aku sering hanya makan papaya mentah yang aku masak sebagai sayur oseng itupun tanpa nasi. Maka suatu waktu  aku berdoa di pagi hari ; “Ya Allaah, berilah aku rizki pada hari ini”, ternyata Allah mengabulkan doaku dengan Dia memerintahkan seekor kelelawar untuk makan buah mangga di samping rumahku yang cabang dan rantingnya menjulur menyeberangi tempat aku tinggal dengan seorang teman kuliahku yang kebetulan sudah lulus namun juga belum mendapat pekerjaan. Maka hari itu aku makan buah mangga hadiah dari kelelawar yang ceroboh tidak mampu mempertahankan mangga ranum yang digigitnya.
                Aku mengajar di SMK Negeri 10 Semarang sesuai dengan disiplin ilmu yang pernah aku peroleh di perguruan tinggi Islam tepatnya IAIN Walisongo Semarang. Mengajar Pendidikan Agama Islam menjadi pekerjaan yang menyenangkan, memberi kepuasaan tersendiri karena setiap yang aku ajarkan berarti aku membentuk generasi bangsa yang berakhlak mulia sekaligus menabung kebaikan (pahala) yang akan saya petik di hari pengadilan Allah SWT. Memang mengajar Pendidikan Agama Islam bagi guru lain dirasa berat, karena harus mengedepankan contoh yang baik dari diri sendiri apabila mengharapkan imbas yang lebih baik atau minimal sama bagi anak didiknya. Bukankah hakekat mengajar itu membentuk dan merubah diri serta orang lain menjadi baik (dewasa) dalam berfikir, bersikap serta bertindak ? Ketika mengajarkan shalat, maka saya harus menjadi pribadi yang rajin dalam beribadah shalat, ketika mengharapkan anak berakhlak baik, maka saya harus menjadi pribadi yang berakhlak baik pula. Hal ini tentu berbeda secara persepsi dengan saat menjadi guru yang lain karena seolah tidak ada tuntutan secara moral, meski sesungguhnya secara normatif semua guru harus berakhlak mulia.   
                Dalam perjalanan selanjutnya mungkin karena ketekunan, dedikasi, disiplin serta tanggung jawab itulah, aku diberi tanggung jawab tambahan untuk mengendalikan keamanan dan ketertiban siswa di sekolahku. Tugas aku jalani dengan gembira karena aku niatkan sebagai ladang menambah “reward” (pahala) bukan tambahan penghasilan sebagai tujuan utamanya. Aku bertugas melakukan bimbingan, pembinaan, memberi  reward and punishment (penghargaan dan hukuman) bagi siswa yang disiplin maupun indisipliner (melanggar).
                Sejak aku bekerja, sekolahku di kenal sebagai lembaga pendidikan yang selalu menimbulkan disharmoni antar sekolah,  biang kerok, tawuran antar pelajar dan sebutan lain yang kurang sedap. Sejak itu pulalah aku bertekad akan mengubah “image” (kesan) yang kurang baik di sekolahku agar menjadi baik. Tugas tersebut menjadi tantangan sekaligus pemacu semangat. Sejak saat itu saya berfikir keras mencari cara dan strategi mengendalikan siswa, menciptakan rasa bangga kepada almamater, disiplin belajar, berpakaian sesuai aturan dan menjaga tata pergaulan antar teman, guru dan karyawan. Akhirnya pada tahun 1998 lahir sebuah aturan Tata Tertib Sekolah yang bukan saja mengatur bagaimana siswa SMK Negeri 10 Semarang dalam bersikap sebagai pelajar, tentang hak dan kewajibannya, tetapi di dalamnya memuat aturan-aturan yang berisi  perintah dan larangan dengan jumlah poin pelanggaran bagi siswa yang mengabaikannya.
                Saya selaku ketua Tim yang ditugasi amanat tersebut, dengan semangat tidak mengenal lelah selama 6 hari kerja Senin sampai Sabtu, dimulai dari jam 06.00 sampai 16.00 bekerja menegakkan disiplin aturan tersebut, memberi sanksi bagi siswa yang melanggar sekaligus melakukan pembinaan, bahkan secara insidental saya harus kordinasi dengan POLWILTABES Semarang di malam hari bila ada kasus-kasus yang harus segera ditangani.
                Setelah Tata Tertib diberlakukan selama 5 tahun barulah sangat dirasakan dampaknya, dimana tingkat perkelaihan siswa, kehadiran di sekolah, kerajinan belajar di kelas, tindakan asusila dan yang lebih menggembirakan penggunaan dan peredaran narkoba di lingkungan sekolah bisa dikatakan aman. Tugas saya selanjutnya hanya tinggal melakukan pembinaan, pencegahan terhadap siswa yang punya ketergantungan terhadap rokok. Tingkat perkelahian menjadi nihil, kalau masih ada sesungguhnya hanya dilakukan oleh oknum mantan siswa ( di keluarkan oleh sekolah) yang ketika melakukan pelanggaran masih menggunakan atribut SMK Negeri 10 Semarang.
                Kepada para pembaca budiman yang ingin melakukan sharing/berbagi informasi tentang hal-hal yang saya lakukan atau ingin belajar bersama tentang pembinaan pelajar secara berkelanjutan dipersilakan kontak saya ke nomor hand phone 081 2256 8854, kirim saran ke alamat email ibnumusa_1407@yahoo.com atau ibnumusa.1407@gmail.com.
                Selamat menjalankan tugas, semoga menjadi pribadi yang mulia.